Penulis: Nurdin, La Yani Konisi, Sumiman Udu
Editor:
Suharmono
Penerbit :
Oceania Press
Jumlah Halaman: 208
Ukuran : 15 x 23 cm
Harga : Rp. 150.000
ISBN : dalam proses
Pemesanan: e-mail: oceaniapress@gmail.com/ WA:081232972949/08124593597
Sinopsis
Buku Bahasa, Manusia, dan Peradaban membahas bahasa bukan sekadar sebagai alat komunikasi, melainkan sebagai inti dari kehidupan manusia. Bahasa dipahami sebagai rumah makna, cermin pikiran, penanda identitas, penjaga ingatan, alat kuasa, medium pendidikan, ruang kebudayaan, serta fondasi penting bagi perkembangan peradaban. Melalui bahasa, manusia menamai dunia, menyusun pengalaman, membangun pengetahuan, mewariskan nilai, mengatur hubungan sosial, dan membayangkan masa depan.
Buku ini mengajak pembaca melihat bahasa dalam cakrawala yang luas. Bahasa tidak hanya dibahas dari sisi struktur linguistik, seperti bunyi, kata, kalimat, dan makna, tetapi juga dalam hubungannya dengan pikiran, identitas, kebudayaan, struktur sosial, ideologi, politik, media, agama, lingkungan, teknologi, sastra, film, dan masa depan kemanusiaan. Dengan demikian, linguistik diposisikan bukan hanya sebagai ilmu teknis tentang bahasa, melainkan sebagai ilmu untuk memahami manusia dan peradabannya.
Salah satu kekuatan utama buku ini adalah upayanya menghubungkan teori-teori mutakhir dalam kajian bahasa dengan pengalaman Indonesia, khususnya Sulawesi Tenggara. Bahasa Indonesia dipandang sebagai rumah kebangsaan yang menyatukan masyarakat majemuk, sementara bahasa-bahasa lokal seperti Wolio, Muna, Tolaki, Wakatobi, Cia-Cia, Kulisusu, Moronene, Bajo, dan Bugis dipahami sebagai rumah ingatan, identitas, dan pengetahuan lokal. Istilah-istilah budaya seperti kangkilo, sara, kalosara, mombesara, kabhanti, katoba, Lalo’a, Nokoi, Namo, Kumbawo, fehai, bhonto mawi, lepa, ponggawa, sawi, siri’, dan pesse ditampilkan sebagai bukti bahwa bahasa lokal menyimpan filsafat hidup, etika sosial, pengetahuan ekologis, dan martabat kebudayaan masyarakatnya.
Buku ini juga menyoroti tantangan bahasa di era modern. Globalisasi, deglobalisasi, urbanisasi, media digital, kecerdasan buatan, pendidikan modern, dan perubahan sosial telah mengubah cara manusia berbahasa. Di satu sisi, perubahan itu membuka peluang baru bagi kreativitas, mobilitas, dan perluasan komunikasi. Di sisi lain, perubahan tersebut juga membawa risiko melemahnya bahasa daerah, menyempitnya tradisi lisan, terputusnya pewarisan antargenerasi, dan hilangnya kosa kata budaya yang selama ini menjadi penyangga ingatan kolektif masyarakat.
Dalam konteks itu, buku ini menegaskan bahwa menjaga bahasa bukan hanya tugas linguistik, tetapi juga tugas kebudayaan dan peradaban. Menjaga bahasa Indonesia berarti menjaga ruang kebangsaan. Menjaga bahasa daerah berarti menjaga akar identitas, sejarah, adat, sastra lisan, pengetahuan ekologis, dan kearifan lokal. Bahasa tidak boleh hanya diperlakukan sebagai warisan masa lalu, tetapi harus dihidupkan kembali dalam keluarga, sekolah, perguruan tinggi, media digital, karya sastra, film, kebijakan publik, dan gerakan kebudayaan.
Pada akhirnya, buku ini menyampaikan pesan mendasar bahwa masa depan manusia tidak dapat dibangun hanya dengan teknologi, ekonomi, dan kekuasaan. Peradaban yang bermartabat membutuhkan bahasa yang hidup, bermakna, etis, dan berakar. Sebab ketika bahasa melemah, manusia kehilangan sebagian kemampuannya untuk berpikir, mengingat, mencintai, berdamai, dan memahami dunia. Sebaliknya, ketika bahasa dirawat, manusia memiliki jalan untuk menjaga martabat, merawat ingatan, dan membangun masa depan yang lebih manusiawi.

